Beranda / Artikel / Contoh Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi

Contoh Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi: Cuma Ada Satu dalam Al-Quran

Kalau kamu mencari daftar dua puluh contoh dan tidak pernah menemukannya, bukan pencarianmu yang kurang. Memang cuma ada satu, dan halaman ini menunjukkan yang mana.

Tim Ngajiku6 menit baca
Halaman mushaf yang terbuka dengan pensil dan buku catatan di sampingnya

Mad lazim mukhaffaf kilmi adalah bacaan panjang enam harakat yang terjadi ketika huruf mad bertemu huruf bersukun asli di dalam satu kata. Namanya menjelaskan dirinya sendiri: kilmi berarti terjadi pada kata, lazim berarti panjangnya tetap, dan mukhaffaf berarti ringan.

Yang membuat hukum ini berbeda dari semua jenis mad lain: contohnya cuma satu di seluruh Al-Quran, dan kata itu muncul dua kali — keduanya di surah Yunus. Kami menyisir seluruh mushaf dengan pola yang sama seperti pada artikel pilar lainnya, dan hasilnya tetap satu. Untuk melihat posisinya di antara jenis mad yang lain, baca panduan mengenal mad.

Cara mengenali mad lazim mukhaffaf kilmi

Tiga syarat, dan ketiganya harus terpenuhi bersamaan.

Pertama, ada huruf mad — alif sesudah fathah, wau mati sesudah dhammah, atau ya mati sesudah kasrah.

Kedua, huruf sesudahnya bersukun asli. Sukun asli berarti sukun yang memang melekat pada kata itu, bukan sukun yang muncul karena berhenti membaca.

Ketiga, huruf bersukun itu tidak bertasydid. Inilah syarat yang paling menentukan sekaligus paling sulit dipenuhi, dan alasannya dijelaskan di bagian berikutnya.

Kalau ketiganya terpenuhi, huruf madnya dipanjangkan penuh enam harakat, lalu huruf bersukun sesudahnya diucapkan jelas tanpa tekanan. Tidak ada peleburan, tidak ada penekanan — hanya panjang, lalu jelas.

Kenapa contohnya cuma satu

Ini pertanyaan yang jarang dijawab, padahal justru di sini letak seluruh penjelasannya.

Perhatikan apa yang dituntut hukum ini: huruf mad, lalu huruf mati, di dalam satu kata yang sama. Dalam kebiasaan penulisan bahasa Arab, huruf mati yang datang tepat sesudah huruf mad di dalam satu kata hampir selalu berwujud huruf bertasydid. Dan begitu bertasydid, hukumnya berpindah — bukan lagi mukhaffaf yang ringan, melainkan mutsaqqal yang berat.

Jadi mad lazim mukhaffaf kilmi menuntut sesuatu yang secara kebahasaan nyaris tidak pernah terjadi: sukun asli tanpa tasydid, tepat sesudah huruf mad, di dalam satu kata. Bukan kebetulan kalau yang tersisa hanya satu.

Kelangkaan ini punya akibat praktis. Kamu tidak perlu menghafal kaidahnya untuk dipakai sehari-hari, karena kamu takkan menemuinya kecuali sedang membaca dua ayat itu. Yang perlu kamu hafal justru lawannya — mutsaqqal kilmi — yang tersebar di puluhan ayat dan muncul bahkan di Al-Fatihah.

Satu-satunya contoh mad lazim mukhaffaf kilmi

Potongan di bawah diambil dari teks mushaf Utsmani, dan nomor ayatnya dicocokkan langsung ke sumbernya. Kata yang sama muncul sekali lagi di surah yang sama pada ayat 91, dengan bacaan yang persis serupa.

  1. ءَآلْـَٔـٰنَYunus 51Huruf mad bertemu lam bersukun asli di dalam satu kata. Dipanjangkan enam harakat, tetapi ringan — tanpa tekanan, karena lam-nya tidak bertasydid.

Kata ini muncul dalam konteks pertanyaan yang menegur — diucapkan kepada orang yang baru percaya setelah waktunya habis. Bentuk katanya sendiri tidak lazim, dan justru ketidaklaziman itulah yang melahirkan susunan mad ini.

Empat jenis mad lazim, dan di mana yang ini berdiri

Mad lazim seluruhnya dibaca enam harakat. Yang membedakan keempatnya cuma dua pertanyaan, dan menjawabnya berurutan membuat semuanya jelas.

Pertanyaan pertama: terjadi pada kata biasa, atau pada huruf pembuka surah? Kalau pada kata biasa, namanya kilmi. Kalau pada huruf pembuka surah yang dibaca menurut nama hurufnya, namanya harfi.

Pertanyaan kedua: huruf sesudah madnya bertasydid, atau bersukun biasa? Kalau bertasydid, namanya mutsaqqal alias berat. Kalau bersukun biasa, namanya mukhaffaf alias ringan.

Dua pertanyaan itu menghasilkan empat kemungkinan. Mutsaqqal kilmi paling banyak dan tersebar di seluruh Al-Quran. Mutsaqqal harfi ada sepuluh, semuanya di pembuka surah. Mukhaffaf harfi ada beberapa, di antaranya pada pembuka surah Shad dan surah Qaf. Dan mukhaffaf kilmi — yang sedang kamu baca — cuma satu.

Kenapa kata itu bentuknya tidak biasa

Kelangkaan hukum ini punya sebab yang bisa ditelusuri, dan sebabnya ada pada kata itu sendiri.

Kata pada kedua ayat Yunus itu bukan kata biasa. Ia gabungan dari kata tanya dengan kata penunjuk waktu, dan gabungan itu memaksa dua unsur bertemu di tempat yang dalam susunan normal tidak akan pernah berdampingan. Dari pertemuan yang dipaksakan itulah lahir huruf mad yang langsung disusul huruf bersukun tanpa tasydid — susunan yang tidak muncul di kata mana pun yang terbentuk secara biasa.

Ini menjelaskan kenapa mencari contoh kedua tidak akan berhasil. Bukan karena Al-Quran kebetulan tidak memakainya lagi, melainkan karena bahasa Arab memang tidak melahirkan susunan itu di luar keadaan seperti ini.

Ada pelajaran yang lebih luas di sini, dan berlaku untuk seluruh tajwid: kaidah tajwid tidak dikarang lebih dulu lalu dicarikan contohnya. Ia disusun dari apa yang benar-benar ada di dalam mushaf. Karena itu ada kaidah yang contohnya ratusan, dan ada yang contohnya satu — dan keduanya sama sahnya. Yang keliru justru anggapan bahwa setiap kaidah pasti punya daftar panjang.

Kesalahan umum saat membacanya

Diberi tekanan seperti mutsaqqal. Karena sama-sama enam harakat, banyak yang menekan huruf sesudah madnya seperti pada bacaan berat. Padahal ringan itulah seluruh isi kata mukhaffaf; huruf sesudahnya diucapkan jelas, tanpa ditekan.

Dibaca dua harakat. Biasanya karena huruf sesudahnya tidak bertasydid, sehingga terasa tidak ada alasan memanjangkan. Padahal sebab madnya bukan tasydid, melainkan pertemuan dengan huruf mati — dan itu sudah cukup untuk enam harakat.

Dianggap tidak ada sama sekali. Sebagian pembaca melewatinya karena tidak menyangka ada hukum mad di kata yang bentuknya tidak biasa itu. Sekali tahu letaknya, ia mudah dikenali seumur hidup — memang cuma di dua tempat.

Tertukar dengan mukhaffaf harfi. Keduanya sama-sama ringan dan sama-sama enam harakat, tetapi yang harfi hanya ada di huruf pembuka surah. Periksa dulu: ini kata biasa, atau huruf pembuka yang dieja menurut namanya?

Pertanyaan umum

Apa itu mad lazim mukhaffaf kilmi?
Mad lazim mukhaffaf kilmi adalah bacaan panjang enam harakat yang terjadi ketika huruf mad bertemu huruf bersukun asli di dalam satu kata. Kata kilmi berarti terjadi pada kata, lazim berarti panjangnya tetap enam harakat, dan mukhaffaf berarti ringan karena huruf sesudah madnya tidak bertasydid sehingga tidak perlu ditekan.
Ada berapa contohnya di dalam Al-Quran?
Satu kata saja, dan kata itu muncul dua kali — keduanya di surah Yunus, pada ayat 51 dan ayat 91. Di luar dua tempat itu, susunan yang dituntut hukum ini tidak ditemukan lagi. Jadi kalau kamu mencari daftar panjang berisi dua puluh contoh, daftar seperti itu memang tidak ada.
Kenapa contohnya cuma satu?
Karena syaratnya bertabrakan dengan kebiasaan penulisan bahasa Arab. Huruf mad menuntut huruf sesudahnya mati, sementara huruf mati sesudah mad di dalam satu kata hampir selalu berupa huruf bertasydid — dan begitu bertasydid, hukumnya berubah menjadi mutsaqqal alias berat. Sukun asli tanpa tasydid sesudah huruf mad di dalam satu kata adalah susunan yang nyaris tidak pernah terjadi.
Apa bedanya dengan mad lazim mutsaqqal kilmi?
Perbedaannya hanya pada huruf sesudah madnya. Kalau huruf itu bertasydid, bacaannya mutsaqqal yang berarti berat, dan tasydidnya harus ditekan. Kalau huruf itu bersukun biasa tanpa tasydid, bacaannya mukhaffaf yang berarti ringan. Panjangnya sama-sama enam harakat; yang berbeda ada atau tidaknya tekanan sesudahnya.
Apakah mad lazim mukhaffaf harfi sama dengan ini?
Tidak. Yang harfi terjadi pada huruf pembuka surah yang dibaca menurut nama hurufnya, seperti shad pada pembuka surah Shad dan qaf pada pembuka surah Qaf. Yang kilmi terjadi pada kata biasa. Keduanya sama-sama ringan dan sama-sama enam harakat, tetapi tempat terjadinya berbeda — dan yang harfi contohnya justru lebih banyak.

Contoh di halaman ini menolongmu mengenali hukumnya di atas kertas. Yang tidak bisa dinilai sendiri adalah apakah bacaanmu sudah pas takarannya — panjang yang kelebihan atau kekurangan hampir selalu terdengar benar oleh pembacanya sendiri.

Kalau ingin tahu posisimu sekarang, cek tingkat bacaanmu lewat lima pertanyaan singkat. Gratis, tanpa perlu membuat akun dulu.

Chat kami