Beranda / Artikel / Kesalahan Umum Membaca Al-Qur'an

7 Kesalahan Umum Membaca Al-Qur'an (dan Cara Memperbaikinya)

Banyak yang sudah lancar membaca, tapi tanpa sadar masih menyimpan kesalahan kecil yang berulang. Kabar baiknya: semua bisa diperbaiki. Kenali yang paling sering terjadi, lalu rapikan lewat tahsin yang terbimbing.

Tim NgajikuDitinjau guru tahsin Ngajiku24 Juni 20267 menit baca
Murid membaca Al-Qur'an dibimbing guru untuk memperbaiki bacaan dan tajwid

Membaca Al-Qur'an dengan benar bukan soal cepat selesai, tapi soal ketepatan. Kesalahan yang paling sering terjadi biasanya berkisar pada panjang-pendek (mad) yang tidak konsisten, huruf yang tertukar karena makhraj mirip, dengung (ghunnah) yang terlewat, dan membaca terburu-buru. Hampir semuanya luput karena tidak ada yang menyimak. Berikut tujuh yang paling umum, beserta cara memperbaikinya.

1. Panjang-pendek (mad) yang tidak konsisten

Ini kesalahan paling sering: madd yang seharusnya dua harakat dibaca satu (terlalu pendek), atau sebaliknya huruf pendek malah dipanjangkan. Akibatnya irama bacaan berubah dan kadang maknanya ikut bergeser.

Cara memperbaiki: kenali tanda dan jenis mad, lalu biasakan menghitung ketukan secara konsisten (mad thabi'i dua harakat). Latih pelan dulu sampai panjangnya stabil, baru percepat.

2. Tertukar huruf yang makhraj-nya mirip

Huruf yang keluar dari tempat berdekatan sering tertukar, misalnya antara “sa, tsa, sya”, antara “ha” tenggorokan dan “ha” biasa, atau antara “dzal, za, dal”. Karena terdengar mirip di telinga sendiri, kesalahan ini paling susah disadari.

Cara memperbaiki: pelajari makhraj (tempat keluar huruf) satu per satu, dan minta guru menyimak bacaanmu. Talaqqi (membaca langsung di depan guru) adalah cara paling efektif untuk membetulkan huruf yang tertukar.

3. Dengung (ghunnah) yang terlewat

Dengung pada nun dan mim bertasydid, serta pada hukum idgham dan ikhfa, sering dilewati atau dibaca terlalu cepat sehingga hilang. Padahal dengung adalah ciri khas bacaan yang tartil.

Cara memperbaiki: tahan dengung kira-kira dua harakat dan rasakan getarannya di hidung. Latih pada contoh ayat pendek sampai terbiasa, baru diterapkan saat membaca panjang.

4. Qalqalah yang tidak dipantulkan

Huruf qalqalah (qa, tha, ba, jim, dal) ketika sukun seharusnya memantul ringan. Banyak yang membacanya datar sehingga terdengar mati. Sebaliknya, ada juga yang memantulkannya terlalu keras sampai berlebihan.

Cara memperbaiki: latih pantulan yang ringan dan rapi, tidak ditelan dan tidak dilebih-lebihkan. Dengarkan contoh dari qari atau guru, lalu tirukan.

5. Membaca terburu-buru, kurang tartil

Keinginan cepat selesai membuat banyak hukum bacaan terlompati. Tartil bukan berarti lambat berlebihan, tapi membaca dengan tenang sambil memberi setiap huruf haknya.

Cara memperbaiki: turunkan kecepatan, fokus pada kualitas bukan kuantitas. Lebih baik satu halaman yang rapi daripada banyak halaman yang berantakan.

6. Berhenti (waqaf) di tempat yang keliru

Berhenti atau mengambil napas di tengah kalimat yang belum utuh bisa mengubah arti. Begitu juga memulai kembali (ibtida) dari tempat yang kurang tepat.

Cara memperbaiki: kenali tanda-tanda waqaf di mushaf dan biasakan berhenti di akhir ayat atau tanda yang dianjurkan. Kalau napas habis di tengah, ulangi dari kata sebelumnya yang masih utuh maknanya.

7. Harakat dibaca asal, kurang teliti

Salah membaca fathah, kasrah, atau dhammah, atau menambah dan mengurangi harakat, termasuk kesalahan yang bisa mengubah makna. Ini sering terjadi saat membaca ayat yang belum familiar.

Cara memperbaiki: baca lebih perlahan pada ayat baru, perhatikan setiap harakat, dan jangan menebak. Kalau ragu, tanyakan ke guru daripada membiasakan bacaan yang keliru.

Kenapa kesalahan ini sulit disadari sendiri?

Telinga kita terbiasa dengan bacaan sendiri, sehingga yang keliru pun terasa benar. Inilah sebabnya membaca sendiri sebanyak apa pun belum tentu memperbaiki bacaan, malah bisa mengukuhkan kesalahan. Yang dibutuhkan adalah seseorang yang menyimak dan mengoreksi secara langsung, persis cara para ulama mewariskan bacaan Al-Qur'an dari guru ke murid (talaqqi).

Di Ngajiku, kualitas bacaan guru bukan klaim sepihak. Lewat Bayyinah, latar dan kelayakan guru kami tampilkan apa adanya, supaya kamu belajar dari yang memang layak menyimak dan membetulkan bacaanmu.

Cara memperbaiki secara terstruktur: lewat Tahsin

Memperbaiki bacaan paling efektif dilakukan bertahap dan terbimbing, bukan ditebak sendiri. Itulah fungsi Tahsin: merapikan tajwid, makhraj, dan kelancaran bersama guru yang menyimak setiap bacaanmu. Kalau kamu masih bingung membedakan tahap belajar, lihat dulu beda Iqra, Tahsin, dan Tahfidz.

Pertanyaan umum

Kenapa kesalahan baca Al-Qur'an susah disadari sendiri?
Karena telinga sudah terbiasa dengan bacaan kita sendiri, sehingga kesalahan terasa benar. Kesalahan makhraj dan panjang-pendek paling sering luput tanpa ada yang menyimak. Itu sebabnya bacaan perlu didengar dan dikoreksi langsung oleh guru.
Apakah kesalahan kecil tajwid membuat bacaan tidak sah?
Sebagian besar kesalahan ringan tidak membatalkan, tapi tetap perlu diperbaiki agar bacaan lebih tepat dan tartil. Yang lebih hati-hati adalah kesalahan yang sampai mengubah makna, misalnya salah harakat atau tertukar huruf. Karena itu memperbaiki bacaan itu penting, bukan untuk menyalahkan, tapi memuliakan Al-Qur'an.
Saya sudah bisa membaca, apakah masih perlu tahsin?
Sangat dianjurkan. Tahsin justru ditujukan untuk yang sudah bisa membaca tapi ingin merapikan tajwid, makhraj, dan kelancaran. Banyak orang baru sadar bacaannya perlu diperbaiki setelah disimak guru dalam sesi tahsin.
Berapa lama memperbaiki bacaan yang sudah terlanjur keliru?
Bergantung kebiasaan dan rutinitas latihan, tapi umumnya beberapa pekan sudah terasa perubahannya jika rutin disimak guru dan dilatih harian. Kuncinya konsisten dan ada yang mengoreksi, bukan sekadar banyak membaca sendiri.

Ingin bacaanmu disimak dan diperbaiki?

Mulai dari sesi pertama, biarkan guru terverifikasi mendengar bacaanmu dan menunjukkan apa yang perlu dirapikan.

Cari Guru Ngaji
Chat kami