
Idgham bilaghunnah adalah meleburkan bunyi nun mati atau tanwin ke dalam huruf sesudahnya tanpa dengung, ketika huruf itu lam atau ra. Bunyi nunnya tidak disamarkan seperti ikhfa, tidak pula dibaca jelas seperti izhar. Ia hilang sama sekali, berpindah wujud menjadi lam atau ra yang dibaca bertasydid.
Hurufnya hanya dua, dan itu membuatnya hukum nun mati yang paling ringan dihafal. Tidak ada yang perlu dihitung, tidak ada daftar panjang yang perlu diingat. Untuk gambaran menyeluruh hukum-hukum dasarnya, lihat panduan hukum tajwid dasar.
Cara mengenali idgham bilaghunnah
Dua langkah, dan langkah keduanya hampir tidak butuh berpikir.
Pertama, temukan nun matinya. Nun mati bisa berwujud huruf nun tanpa harakat, atau berwujud tanwin — baris dua di ujung kata. Tanwin pada dasarnya nun mati yang tidak ditulis sebagai huruf, jadi hukum keduanya sama persis.
Kedua, lihat huruf pertama kata berikutnya. Kalau lam atau ra, sudah pasti idgham bilaghunnah. Tidak ada pengecualian yang perlu diperiksa, tidak ada syarat tambahan.
Perhatikan bahwa langkah kedua menyebut kata berikutnya, bukan huruf berikutnya. Ini bukan kelalaian bahasa. Idgham nun mati hanya berlaku antar-kata; nun mati yang bertemu lam atau ra di dalam satu kata tidak dilebur. Semua contoh di halaman ini karena itu selalu berupa dua kata.
Tanda yang dipakai mushaf, dan kenapa itu menolong
Ada satu hal yang jarang disebut buku tajwid pemula, padahal ia membuat idgham jauh lebih mudah dilihat daripada dihafal: mushaf menandainya sendiri.
Nun yang dilebur ditulis polos — tanpa sukun, tanpa harakat apa pun. Lalu lam atau ra di awal kata berikutnya justru memakai tasydid. Tasydid itulah tanda bahwa ada nun yang baru saja masuk ke dalamnya.
Jadi kalau kamu melihat nun telanjang di ujung kata dan tasydid di awal kata sesudahnya, kamu sedang melihat idgham — tanpa perlu mengingat daftar huruf mana pun. Kebiasaan ini konsisten di seluruh mushaf rasm Utsmani, dan sekali terlihat, sulit untuk tidak melihatnya lagi.
20 contoh idgham bilaghunnah dalam Al-Quran
Semua potongan di bawah diambil dari teks mushaf Utsmani, dan nama surah serta nomor ayatnya dicocokkan satu per satu. Sebagian berupa nun mati di ujung kata, sebagian lagi berupa tanwin — perhatikan bahwa keduanya diperlakukan sama.
- مِّن رَّبِّهِمْAl-Baqarah 5Nun mati bertemu ra. Bunyi nunnya lebur habis ke ra tanpa dengung, dan ra-nya dibaca bertasydid.
- وَلَـٰكِن لَّاAl-Baqarah 12Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مِن لَّدُنكَAli 'Imran 8Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- لِيَوْمٍ لَّاAli 'Imran 9Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- فَإِن لَّمْAn-Nisa 11Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- إِن لَّمْAn-Nisa 12Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍAl-Ma'idah 3Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- حِلٌّ لَّكُمْAl-Ma'idah 5Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- نُمَكِّن لَّكُمْAl-An'am 6Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- ءَايَةٍ لَّاAl-An'am 25Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مِّن رَّبِّكُمْAl-A'raf 3Nun mati bertemu ra. Bunyi nunnya lebur habis ke ra tanpa dengung, dan ra-nya dibaca bertasydid.
- وَإِن لَّمْAl-A'raf 23Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مَآءً لِّيُطَهِّرَكُمAl-Anfal 11Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- خَيْرٌ لَّكُمْAl-Anfal 19Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- غَفُورٌ رَّحِيمٌAt-Tawbah 5Tanwin bertemu ra. Bunyi nunnya lebur habis ke ra tanpa dengung, dan ra-nya dibaca bertasydid.
- قَوْمٌ لَّاAt-Tawbah 6Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- لَـَٔايَـٰتٍ لِّقَوْمٍYunus 6Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- كَأَن لَّمْYunus 12Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مِن لَّدُنْHud 1Nun mati bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
- مَّعْدُودَةٍ لَّيَقُولُنَّHud 8Tanwin bertemu lam. Bunyi nunnya lebur habis ke lam tanpa dengung, dan lam-nya dibaca bertasydid.
Bedanya dengan idgham bighunnah
Enam huruf idgham dibagi dua kelompok, dan pembaginya bukan sekadar penamaan. Yang membedakan benar-benar terdengar.
Idgham bighunnah berlaku pada ya, nun, mim, dan wau. Bunyi nunnya masih menyisakan dengung sekitar dua harakat sebelum lebur. Telinga sempat menangkap ada sesuatu yang tertahan.
Idgham bilaghunnah berlaku pada lam dan ra. Tidak ada yang tertahan sama sekali. Begitu sampai di lam atau ra, bunyi nunnya sudah habis.
Kalau kamu sedang membandingkan seluruh hukum nun mati sekaligus, kumpulan contoh bacaan ikhfa menunjukkan sisi sebaliknya: di sana nunnya disamarkan dan tetap terdengar, bukan dilebur sampai habis. Membaca keduanya berdampingan membuat perbedaan dengungnya jauh lebih jelas daripada menghafal daftar hurufnya.
Ada istilah lain yang kadang muncul untuk perbedaan ini: idgham pada lam dan ra disebut kamil, artinya sempurna, karena tidak menyisakan apa pun dari nun. Sedangkan idgham dengan wau dan ya disebut naqish atau belum sempurna, karena dengungnya masih tertinggal. Dua nama yang berbeda untuk satu hal yang sama: seberapa habis nunnya melebur.
Cara penandaan yang sama dipakai idgham mutajanisain — huruf pertama polos, huruf kedua bertasydid. Hukumnya berbeda, tetapi sekali kamu terbiasa membaca tandanya, keduanya terlihat dengan cara yang sama.
Kesalahan umum saat membacanya
Menambahkan dengung. Ini yang paling sering, dan biasanya bukan karena tidak tahu. Pembaca yang sudah terbiasa dengan ikhfa dan idgham bighunnah membawa kebiasaan mendengung itu ke sini, padahal justru dengungnya yang harus ditiadakan. Nama hukumnya menyebutkan itu secara harfiah.
Nun masih terdengar sedikit. Peleburan yang setengah jalan menghasilkan bunyi yang bukan idgham dan bukan izhar. Kalau nunnya masih terdengar, ia belum melebur.
Tasydidnya dilewatkan. Lam atau ra sesudah idgham harus dibaca bertasydid, karena ia kini menampung dua huruf sekaligus: dirinya sendiri dan nun yang sudah masuk ke dalamnya. Membacanya ringan membuat nunnya seolah tidak pernah ada.
Berhenti di antara keduanya. Kalau napas habis tepat sesudah nun mati, hukumnya gugur — yang tersisa hanya nun mati di ujung waqaf. Ambil napas sebelum kata itu, bukan di tengah pasangannya.
Menerapkannya pada tanwin, tapi tidak pada nun mati. Atau sebaliknya. Keduanya satu hukum; yang membedakan cuma cara menulisnya.
Pertanyaan umum
Apa itu idgham bilaghunnah?
Apa saja huruf idgham bilaghunnah?
Apa bedanya idgham bilaghunnah dan idgham bighunnah?
Kenapa idgham bilaghunnah disebut idgham kamil?
Apakah idgham bilaghunnah bisa terjadi dalam satu kata?
Bagaimana menandainya di mushaf?
Contoh di halaman ini menolongmu mengenali hukumnya di atas kertas. Yang tidak bisa dinilai sendiri adalah apakah bacaanmu sudah pas takarannya — panjang yang kelebihan atau kekurangan hampir selalu terdengar benar oleh pembacanya sendiri.
Kalau ingin tahu posisimu sekarang, cek tingkat bacaanmu lewat lima pertanyaan singkat. Gratis, tanpa perlu membuat akun dulu.