Beranda / Artikel / Ziyadah dan Murajaah

Ziyadah dan Murajaah: Dua Napas yang Menjaga Hafalan

Menghafal bukan hanya soal menambah. Ada dua gerakan yang harus berjalan bersama, dan ketidakseimbangan di antara keduanya adalah sebab paling umum penghafal berhenti di tengah jalan.

Tim NgajikuDitinjau guru Ngajiku23 Juli 20267 menit baca
Seorang pria membaca mushaf yang terbuka di atas sajadah terlipat sambil mengulang hafalannya di rumah

Ziyadah adalah menambah hafalan baru, sedangkan murajaah adalah mengulang hafalan yang sudah dimiliki agar tetap melekat. Keduanya bukan dua tahap yang berurutan, melainkan dua gerakan yang berjalan bersamaan sepanjang perjalanan seorang penghafal, seperti tarikan dan hembusan napas. Menambah tanpa mengulang membuat hafalan menguap; mengulang tanpa pernah menambah membuat perjalanan berhenti di tempat.

Kenapa banyak penghafal berhenti di tengah

Pola kegagalan yang paling sering terjadi hampir selalu sama: porsi ziyadah terlalu besar sejak awal, murajaah terabaikan. Di bulan pertama semuanya terasa lancar karena hafalan masih sedikit dan mudah diingat. Memasuki bulan ketiga atau keempat, tumpukan hafalan lama mulai menuntut waktu. Karena jadwal harian sudah penuh oleh hafalan baru, murajaah dikorbankan.

Beberapa pekan kemudian muncul perasaan yang melemahkan: hafalan lama terasa hilang, padahal hafalan baru terus bertambah. Banyak orang menafsirkan ini sebagai tanda dirinya tidak berbakat, lalu berhenti. Padahal yang terjadi bukan soal bakat, melainkan soal porsi yang tidak seimbang. Menyadari hal ini sejak awal saja sudah menyelamatkan banyak perjalanan hafalan.

Patokan pembagian porsi

Tidak ada aturan mutlak dalam hal ini, tapi ada kebiasaan yang lazim dipakai pengajar. Kebiasaan yang paling sering disebut: waktu untuk murajaah setidaknya sama banyak dengan waktu untuk ziyadah, dan porsinya terus bertambah seiring hafalan menumpuk. Sebagian pengajar bahkan menyarankan perbandingan yang jauh lebih berat ke arah murajaah setelah hafalan melewati beberapa juz.

Perlu ditegaskan, angka perbandingan itu adalah kebiasaan umum, bukan ketentuan baku. Yang menentukan tetap kondisi masing-masing orang: seberapa kuat daya ingatnya, seberapa rapi bacaannya, dan berapa banyak waktu yang benar-benar tersedia.

Contoh pembagian waktu harian

Tabel berikut menggambarkan bagaimana orang dengan situasi berbeda membagi waktunya. Angka menitnya boleh disesuaikan, yang penting perbandingannya.

TipeWaktu ziyadahWaktu murajaahCatatan
Pelajar atau mahasiswa20 sampai 30 menit pagi30 menit sore atau malamWaktu paling lentur, cocok memasang target harian tetap dan setoran rutin ke penyimak
Pekerja10 sampai 15 menit sebelum berangkat20 sampai 30 menit dicicil di sela hariManfaatkan waktu perjalanan dan jeda kerja untuk mengulang tanpa mushaf
Ibu rumah tangga10 menit saat rumah paling tenang20 sampai 30 menit dipecah beberapa kaliMengulang sambil mengerjakan pekerjaan rumah sangat membantu menjaga hafalan lama

Perhatikan bahwa pada ketiga tipe, waktu murajaah selalu lebih panjang daripada ziyadah. Untuk kiat harian yang lebih rinci, termasuk cara mengulang di sela kesibukan, lihat cara menjaga hafalan Al-Qur'an dan metode menghafal untuk orang sibuk.

Menyusun siklus murajaah

Mengulang tanpa sistem biasanya berakhir sama: yang diulang hanya bagian yang paling disukai atau paling baru, sementara bagian tengah terlupakan berbulan-bulan. Karena itu pengajar menyarankan siklus, yaitu jadwal berputar yang memastikan setiap bagian tersentuh secara berkala.

Bentuk paling sederhana adalah membagi seluruh hafalan ke dalam tujuh bagian untuk siklus pekanan. Setiap hari kamu mengulang satu bagian, sehingga dalam sepekan semuanya terlewati. Ketika hafalan bertambah, bagian-bagian itu ikut membesar, atau siklusnya diperpanjang menjadi dua pekan.

Ada satu penyesuaian penting: hafalan yang paling baru menuntut pengulangan jauh lebih sering daripada hafalan lama yang sudah mengendap bertahun-tahun. Banyak penghafal menempatkan hafalan sebulan terakhir di daftar harian, sementara hafalan lama cukup masuk siklus pekanan. Dengan begitu waktu mengulang terpakai di tempat yang paling membutuhkan.

Tanda hafalan mulai rapuh

  • Butuh dipancing awal ayat sebelum bisa melanjutkan, padahal dulu mengalir sendiri.
  • Sering tertukar antara ayat yang bunyinya mirip di surat berbeda.
  • Lancar saat membaca sendiri, tapi tersendat begitu ada yang menyimak.
  • Hanya hafal bila mengikuti urutan, dan bingung ketika diminta memulai dari tengah surat.
  • Ragu pada peralihan antar halaman, biasanya karena mengandalkan letak tulisan, bukan hafalan bunyinya.

Kalau dua atau lebih tanda itu muncul, jawabannya hampir selalu sama: kurangi sementara hafalan baru, perbesar porsi mengulang, dan jadwalkan setoran ke penyimak.

Peran guru penyimak

Ada satu batas yang sulit ditembus saat menghafal sendiri: kita tidak bisa mendengar kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan. Ayat yang salah panjangnya, huruf yang bergeser tempat keluarnya, atau potongan yang keliru urutannya akan terdengar benar di telinga sendiri karena itulah yang selama ini diulang.

Guru penyimak menutup celah itu. Dalam program Tahfidz Ngajiku, murid menyetorkan hafalan secara berkala lewat kelas online, guru menyimak dan mengoreksi seketika, lalu membantu menyusun jadwal murajaah yang berputar agar tidak ada bagian yang terlupakan berbulan-bulan. Biayanya berkisar Rp25.000 sampai Rp75.000 per sesi sesuai jenjang, diterima guru secara penuh.

Pertanyaan umum

Mana yang lebih penting, ziyadah atau murajaah?
Keduanya diperlukan, tapi kalau harus dipilih, murajaah lebih menentukan. Hafalan yang tidak diulang akan hilang, sedangkan hafalan yang belum ditambah hanya berarti jumlahnya belum bertambah. Banyak pengajar mengibaratkan ziyadah sebagai mengumpulkan dan murajaah sebagai menjaga; mengumpulkan tanpa menjaga berarti bekerja dua kali.
Berapa banyak murajaah yang wajar per hari?
Di awal, waktu mengulang bisa setara dengan waktu menambah. Seiring hafalan bertambah, porsi mengulang perlu tumbuh sampai beberapa kali lipat waktu menambah. Ini bukan tanda kemunduran, melainkan konsekuensi wajar: semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak yang harus dijaga.
Bolehkah murajaah sendiri tanpa guru?
Boleh dan memang sebagian besar murajaah dilakukan sendiri, karena tidak mungkin semua pengulangan disimak orang lain. Yang tetap perlu guru adalah pemeriksaan berkala, karena kekeliruan kecil yang muncul saat mengulang sendiri sering tidak terdengar oleh pembacanya. Setoran berkala berfungsi seperti pemeriksaan mutu.
Bagaimana kalau hafalan lama sudah terasa hilang?
Biasanya tidak benar-benar hilang, hanya tertimbun. Hafalan lama umumnya kembali jauh lebih cepat daripada menghafal dari nol, sering hanya butuh beberapa kali pengulangan. Perlakukan sebagai memulihkan, bukan mengulang dari awal, lalu jadwalkan agar surat itu masuk daftar murajaah rutin supaya tidak terulang.
Apakah murajaah harus mencakup semua hafalan lama?
Tidak sekaligus. Yang lazim adalah membagi hafalan ke dalam jadwal berputar, misalnya sekian halaman per hari sehingga seluruhnya terlewati dalam satu siklus pekanan atau bulanan. Dengan cara ini semua bagian tetap tersentuh berkala tanpa membuat sesi harian menjadi terlalu panjang.

Jaga hafalanmu bersama penyimak

Menambah itu menyenangkan, menjaga itu yang membuatnya bertahan.

Mulai Program Tahfidz
Chat kami