
Ziyadah adalah menambah hafalan baru, sedangkan murajaah adalah mengulang hafalan yang sudah dimiliki agar tetap melekat. Keduanya bukan dua tahap yang berurutan, melainkan dua gerakan yang berjalan bersamaan sepanjang perjalanan seorang penghafal, seperti tarikan dan hembusan napas. Menambah tanpa mengulang membuat hafalan menguap; mengulang tanpa pernah menambah membuat perjalanan berhenti di tempat.
Kenapa banyak penghafal berhenti di tengah
Pola kegagalan yang paling sering terjadi hampir selalu sama: porsi ziyadah terlalu besar sejak awal, murajaah terabaikan. Di bulan pertama semuanya terasa lancar karena hafalan masih sedikit dan mudah diingat. Memasuki bulan ketiga atau keempat, tumpukan hafalan lama mulai menuntut waktu. Karena jadwal harian sudah penuh oleh hafalan baru, murajaah dikorbankan.
Beberapa pekan kemudian muncul perasaan yang melemahkan: hafalan lama terasa hilang, padahal hafalan baru terus bertambah. Banyak orang menafsirkan ini sebagai tanda dirinya tidak berbakat, lalu berhenti. Padahal yang terjadi bukan soal bakat, melainkan soal porsi yang tidak seimbang. Menyadari hal ini sejak awal saja sudah menyelamatkan banyak perjalanan hafalan.
Patokan pembagian porsi
Tidak ada aturan mutlak dalam hal ini, tapi ada kebiasaan yang lazim dipakai pengajar. Kebiasaan yang paling sering disebut: waktu untuk murajaah setidaknya sama banyak dengan waktu untuk ziyadah, dan porsinya terus bertambah seiring hafalan menumpuk. Sebagian pengajar bahkan menyarankan perbandingan yang jauh lebih berat ke arah murajaah setelah hafalan melewati beberapa juz.
Perlu ditegaskan, angka perbandingan itu adalah kebiasaan umum, bukan ketentuan baku. Yang menentukan tetap kondisi masing-masing orang: seberapa kuat daya ingatnya, seberapa rapi bacaannya, dan berapa banyak waktu yang benar-benar tersedia.
Contoh pembagian waktu harian
Tabel berikut menggambarkan bagaimana orang dengan situasi berbeda membagi waktunya. Angka menitnya boleh disesuaikan, yang penting perbandingannya.
| Tipe | Waktu ziyadah | Waktu murajaah | Catatan |
|---|---|---|---|
| Pelajar atau mahasiswa | 20 sampai 30 menit pagi | 30 menit sore atau malam | Waktu paling lentur, cocok memasang target harian tetap dan setoran rutin ke penyimak |
| Pekerja | 10 sampai 15 menit sebelum berangkat | 20 sampai 30 menit dicicil di sela hari | Manfaatkan waktu perjalanan dan jeda kerja untuk mengulang tanpa mushaf |
| Ibu rumah tangga | 10 menit saat rumah paling tenang | 20 sampai 30 menit dipecah beberapa kali | Mengulang sambil mengerjakan pekerjaan rumah sangat membantu menjaga hafalan lama |
Perhatikan bahwa pada ketiga tipe, waktu murajaah selalu lebih panjang daripada ziyadah. Untuk kiat harian yang lebih rinci, termasuk cara mengulang di sela kesibukan, lihat cara menjaga hafalan Al-Qur'an dan metode menghafal untuk orang sibuk.
Menyusun siklus murajaah
Mengulang tanpa sistem biasanya berakhir sama: yang diulang hanya bagian yang paling disukai atau paling baru, sementara bagian tengah terlupakan berbulan-bulan. Karena itu pengajar menyarankan siklus, yaitu jadwal berputar yang memastikan setiap bagian tersentuh secara berkala.
Bentuk paling sederhana adalah membagi seluruh hafalan ke dalam tujuh bagian untuk siklus pekanan. Setiap hari kamu mengulang satu bagian, sehingga dalam sepekan semuanya terlewati. Ketika hafalan bertambah, bagian-bagian itu ikut membesar, atau siklusnya diperpanjang menjadi dua pekan.
Ada satu penyesuaian penting: hafalan yang paling baru menuntut pengulangan jauh lebih sering daripada hafalan lama yang sudah mengendap bertahun-tahun. Banyak penghafal menempatkan hafalan sebulan terakhir di daftar harian, sementara hafalan lama cukup masuk siklus pekanan. Dengan begitu waktu mengulang terpakai di tempat yang paling membutuhkan.
Tanda hafalan mulai rapuh
- Butuh dipancing awal ayat sebelum bisa melanjutkan, padahal dulu mengalir sendiri.
- Sering tertukar antara ayat yang bunyinya mirip di surat berbeda.
- Lancar saat membaca sendiri, tapi tersendat begitu ada yang menyimak.
- Hanya hafal bila mengikuti urutan, dan bingung ketika diminta memulai dari tengah surat.
- Ragu pada peralihan antar halaman, biasanya karena mengandalkan letak tulisan, bukan hafalan bunyinya.
Kalau dua atau lebih tanda itu muncul, jawabannya hampir selalu sama: kurangi sementara hafalan baru, perbesar porsi mengulang, dan jadwalkan setoran ke penyimak.
Peran guru penyimak
Ada satu batas yang sulit ditembus saat menghafal sendiri: kita tidak bisa mendengar kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan. Ayat yang salah panjangnya, huruf yang bergeser tempat keluarnya, atau potongan yang keliru urutannya akan terdengar benar di telinga sendiri karena itulah yang selama ini diulang.
Guru penyimak menutup celah itu. Dalam program Tahfidz Ngajiku, murid menyetorkan hafalan secara berkala lewat kelas online, guru menyimak dan mengoreksi seketika, lalu membantu menyusun jadwal murajaah yang berputar agar tidak ada bagian yang terlupakan berbulan-bulan. Biayanya berkisar Rp25.000 sampai Rp75.000 per sesi sesuai jenjang, diterima guru secara penuh.
Program Tahfidz Ngajiku
Setoran disimak guru dan jadwal murajaah disusun bersama.
Lihat program TahfidzKiat Menjaga Hafalan
Tips harian yang praktis agar hafalan tidak menguap begitu saja.
Baca kiatnyaPertanyaan umum
Mana yang lebih penting, ziyadah atau murajaah?
Berapa banyak murajaah yang wajar per hari?
Bolehkah murajaah sendiri tanpa guru?
Bagaimana kalau hafalan lama sudah terasa hilang?
Apakah murajaah harus mencakup semua hafalan lama?
Jaga hafalanmu bersama penyimak
Menambah itu menyenangkan, menjaga itu yang membuatnya bertahan.
Mulai Program Tahfidz