Beranda / Artikel / Menumbuhkan Minat Anak pada Al-Qur'an

Menumbuhkan Minat Anak pada Al-Qur'an Sejak Dini (Usia PAUD)

Di usia PAUD, target yang tepat bukan bisa membaca, melainkan senang berdekatan dengan Al-Qur'an. Artikel ini membahas prinsipnya, cara-cara bermain yang bekerja, dan hal-hal yang justru mematikan minat.

Tim NgajikuDitinjau guru Ngajiku16 Juli 20266 menit baca
Ibu bermain kartu belajar warna-warni bersama anak usia dini dengan gembira

Prinsip terpenting untuk usia dini bisa diringkas dalam satu kalimat: kelekatan sebelum kemampuan. Anak PAUD belum perlu bisa membaca; yang perlu tumbuh lebih dulu adalah perasaan bahwa Al-Qur'an itu akrab, menyenangkan, dan bagian dari rumahnya. Kemampuan membaca yang dibangun di atas rasa senang akan bertahan seumur hidup; kemampuan yang dibangun di atas paksaan sering berhenti begitu paksaannya hilang. Maka semua cara di artikel ini menuju satu arah: membuat anak ingin, bukan membuat anak bisa.

Cara-cara bermain yang menumbuhkan minat

  • Lagu huruf hijaiyah. Nyanyikan bersama sambil bertepuk atau bergerak; nada dan irama membuat huruf menempel tanpa terasa belajar.
  • Kartu huruf. Jadikan permainan tebak-tebakan, mencocokkan, atau petak umpet kartu. Dua tiga huruf per permainan sudah cukup; ulangi di hari lain.
  • Mendengar murottal bersama. Putar surat-surat pendek sebagai latar saat bermain, di perjalanan, atau menjelang tidur. Telinga anak menabung bunyi jauh sebelum lidahnya menirukan.
  • Rutinitas keluarga. Satu waktu pendek yang sama setiap hari, misalnya sesudah maghrib, saat semua anggota keluarga memegang mushaf atau bukunya masing-masing. Anak kecil boleh sekadar membolak-balik buku hurufnya; kehadirannya dalam ritual itulah yang menanam.
  • Cerita para nabi. Kisah sebelum tidur menghubungkan Al-Qur'an dengan kehangatan dan rasa ingin tahu, bukan dengan tugas.

Yang perlu dihindari

Tiga hal ini paling sering mematikan minat yang sedang tumbuh. Pertama, paksaan: memaksa anak duduk saat sedang tidak mau hanya mengajarkan bahwa mengaji itu tidak enak. Ajakan yang ditolak hari ini boleh diulang besok dengan kemasan lain. Kedua, sesi panjang: sepuluh menit yang gembira jauh lebih bernilai daripada empat puluh lima menit yang diakhiri tangisan; berhentilah justru saat anak masih senang. Ketiga, membandingkan: kalimat seperti "itu temanmu sudah hafal" terdengar seperti pecutan, padahal yang tertanam di hati anak adalah rasa kalah. Anak yang merasa kalah akan menghindari arena yang mengalahkannya.

Teladan orang tua: kurikulum yang paling ampuh

Anak usia dini belajar bukan dari nasihat, melainkan dari pemandangan sehari-hari. Orang tua yang terlihat membaca mushaf dengan tenang, yang memutar murottal karena memang menikmatinya, yang wajahnya cerah setiap kali mengaji, sedang menuliskan pesan yang tidak bisa disaingi metode mana pun: ini kegiatan orang yang aku cintai, dan mereka mencintainya. Sebaliknya, orang tua yang menyuruh anak mengaji sambil dirinya menonton hiburan mengirim pesan yang juga jelas. Tidak perlu sempurna; orang tua yang masih terbata namun tetap berusaha justru teladan yang paling jujur.

Kapan mulai belajar formal?

Tanda anak siap belajar lebih tertata biasanya muncul di usia 5 sampai 7 tahun: tertarik pada huruf, mau mengikuti arahan sederhana, dan bisa fokus sepuluh menit lebih. Saat tanda itu muncul, mulailah tetap dengan gembira, misalnya lewat jenjang Iqro yang naik pelan-pelan. Pembahasan usianya lebih dalam ada di usia ideal anak belajar mengaji, dan teknik mendampinginya di cara mengajari anak mengaji. Kalau memilih didampingi guru, halaman Ngajiku untuk anak merangkum bagaimana kelas privat anak berjalan.

Pertanyaan umum

Dari usia berapa anak boleh dikenalkan Al-Qur'an?
Sejak lahir, dalam arti mendengar. Bayi dan batita sudah bisa menyerap suara murottal yang diputar orang tuanya dan melihat orang tuanya membaca mushaf. Pengenalan huruf lewat permainan bisa dimulai sekitar usia 3-4 tahun bila anak tertarik, dan belajar membaca yang lebih tertata umumnya nyaman dimulai pada 5-7 tahun.
Apakah screen time untuk murottal atau video huruf bermanfaat?
Bermanfaat bila porsinya kecil dan didampingi. Murottal justru paling baik diputar tanpa layar, cukup suaranya menemani aktivitas. Untuk video edukasi huruf, ikuti anjuran umum pembatasan layar usia dini dan usahakan orang tua ikut menonton sambil berkomentar, karena interaksi itulah yang membuat tontonan menjadi belajar.
Anak saya belum mau duduk tenang, wajarkah?
Sangat wajar. Duduk tenang berlama-lama memang bukan kemampuan anak PAUD, dan bukan syarat mencintai Al-Qur'an. Anak bisa mendengar murottal sambil bermain balok, menyimak cerita sambil rebahan, atau bernyanyi huruf sambil melompat. Yang ditanam di usia ini adalah rasa senang, bukan postur belajar.
Perlukah guru ngaji sejak usia PAUD?
Tidak wajib, tapi bisa membantu bila dikemas ringan. Beberapa keluarga memakai guru untuk sesi pendek yang isinya bermain huruf dan mendengar contoh bacaan, sekaligus membiasakan anak pada sosok guru. Yang penting gurunya paham dunia anak dan tidak memaksakan target; sesi 15-20 menit yang gembira sudah bagus sekali.
Bagaimana kalau orang tua sendiri belum lancar mengaji?
Justru ini kesempatan indah: belajarlah bersama. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna bacaannya; anak butuh melihat orang tuanya menghargai Al-Qur'an. Orang tua yang ikut belajar, misalnya lewat kelas online sendiri, memberi teladan paling kuat bahwa mengaji adalah kegiatan seumur hidup, bukan tugas anak-anak saja.

Tanam cintanya dulu, kemampuannya akan menyusul

Guru anak di Ngajiku terbiasa mengubah sesi belajar menjadi waktu yang ditunggu-tunggu anak.

Lihat Kelas Anak
Chat kami